Senin, 28 September 2009

Cara Murah Memasarkan Sekolah


Cara promosi paling kuno yang masih menjadi senjata pemasaran paling efektif hingga hari ini adalah cerita dari mulut ke mulut alias word of mouth (WOM). Orang terkesan, lalu menceritakan kepada orang lain, dan tidak hanya berhenti di telinga, orang lain itu pun menceritakan kembali kepada orang-orang yang ia temui. Satu cerita bisa mengalir ke puluhan, ratusan dan bahkan ribuan orang. Dan karena cerita disampaikan atas kemauan sendiri, bukan pesanan sponsor, serta dilakukan oleh orang yang tidak punya kepentingan dengan produk tersebut, maka kekuatannya menjadi sangat dahsyat. Orang percaya penuh.  
Masalahnya adalah, membuat orang berbicara spontan atas kemauan sendiri tentang produk yang kita miliki (baca: sekolah) justru jauh lebih sulit dibanding pasang iklan di majalah.
Inilah yang mendorong para ahli pemasaran dan pakar komunikasi untuk melakukan penelitian serius tentang bagaimana caranya agar orang dengan senang hati dan atas kemauan sendiri membicarakan produk kita kepada orang lain. Para ahli memusatkan perhatian pada upaya apa saja yang bisa dilakukan agar orang berbicara dengan sangat antusias dan merekomendasikan kepada orang lain. Dibanding iklan, rekomendasi dari sesama konsumen sampai saat ini merupakan promosi paling efektif.
Berbicara tentang WOM, satu nama yang hampir tak bisa kita abaikan adalah Andy Sernovitz. Penulis buku Word of Mouth Marketing sekaligus orang penting di balik situs terpercaya tentang pemasaran dari mulut ke mulut (www.wordofmouthbook.com) ini merupakan praktisi yang telah berpengalaman menangani strategi pemasaran dari mulut ke mulut berbagai perusahaan multi nasional. Buku Word of Mouth Marketing merupakan rangkuman pengalaman dan kedalaman ilmu Sernovitz tentang strategi pemasaran C2C (customer to customer), istilah lain untuk WOM.
Berbeda dengan strategi pemasaran B2C (business to customer) atau perusahaan ke konsumen, pendekatan C2C menitikberatkan pada upaya-upaya sistematis agar orang secara “alamiah” berbicara tentang produk kita. Dalam konteks sekolah, strategi C2C dirancang agar wali murid serta orang-orang yang berinteraksi dengan sekolah mempunyai dorongan untuk mempromosikan sekolah kita secara menggebu-gebu tanpa kita suruh. Mereka dengan senang hati menceritakan sekolah kita karena sangat terkesan. Mereka memiliki ikatan emosional yang sangat kuat, meskipun anaknya sudah pindah ke sekolah lain atau saat mendaftar tidak diterima di sekolah kita. Misalnya karena kuota sudah terpenuhi.
Jika kondisi ini tercapai, maka promosi sekolah boleh dikata costless (tak berbiaya). Lebih penting dari itu, promosi model ini juga sangat efektif dan berlangsung terus-menerus sepanjang waktu.
Nah, bagaimana caranya agar orang dengan senang hati “mempromosikan” sekolah kita tanpa kita suruh? Sernovitz menunjukkan ada empat aturan yang harus kita penuhi. Pertama, jadilah yang menarik (be interesting). Berikan alasan yang kuat bagi orang untuk membicarakan sekolah kita. Ini bukan urusan mutu semata-mata. Ada hal lain yang berkait dengan kekhasan sebagai daya tarik yang menggugah orang untuk membicarakan.
Kedua, sederhanakan. Temukan pesan yang sangat sederhana. Semakin sederhana semakin baik. Jika kita bisa menciptakan pesan super sederhana yang bermakna tentang sekolah kita, orang akan mudah berbagi cerita. Temukan satu kata dahsyat yang mewakili sekolah Anda. Kata inilah yang menjadi keunikan sekolah Anda. Ingat, yang perlu kita temukan adalah pesan sederhana. Satu kata yang kuat merupakan pesan sederhana, tetapi akan rumit jika lebih dari satu kalimat. Apalagi jika terdiri dari beberapa kalimat.
Ketiga, bahagiakan orang lain. Konsumen yang bahagia adalah pengiklan paling hebat. Untuk itu, ciptakan produk yang menakjubkan dan beri pelayanan yang terbaik. Jika Anda memberi layanan ekstra, mereka akan memperoleh pengalaman mengesankan yang selalu teringat. Ini mungkin berkait dengan hal-hal kecil. Tetapi perkara kecil bisa membawa pengaruh besar.
Keempat, perbanyak tabungan kepercayaan dan sikap hormat dari orang lain. Jika orang lain tidak hormat kepada Anda, promosi dari mulut ke mulut (WOM) tidak akan pernah terjadi. WOM akan berkembang jika sekolah Anda menjadi lembaga yang memiliki kelayakan untuk dihormati dan dipercaya. Dua hal ini –hormat dan percaya—hanya akan mungkin terjadi jika sekolah Anda bukan hanya bagus, lebih dari itu sangat menjaga tata krama kepada para konsumen, terutama wali murid.
Jika empat aturan itu sudah kita penuhi, Sernovitz mengajukan 5-T sebagai formula strategi pemasaran WOM. Kelima T itu meliputi talkers, topics, tools, taking part, dan tracking.
Talkers. Selalu ada orang yang antusias untuk berbicara. Mereka ini yang paling bersemangat menceritakan pengalamannya. Tugas Anda menemukan dan merawat orang-orang semacam ini sehingga mereka menjadi penyampai pesan Anda secara suka rela. Mereka akan melakukan “tugas” tersebut jika Anda memberikan kepada mereka sesuatu untuk mereka bicarakan dan mereka menyukai Anda.
Satu hal yang harus diingat, mereka berbicara atas kemauan sendiri. Bukan karena Anda suruh. Semakin spontan dan antusias mereka, akan semakin besar peluangnya menular kepada orang lain. Sebaliknya begitu orang melihat bahwa ada unsur transaksi antara Anda dengan mereka, pembicaraan mereka akan kehilangan kredibilitas.
Lalu siapa yang bisa menjadi talkers? Intinya, orang tersebut senang bercerita tentang apa yang berkesan baginya. Ini bisa wali murid, karyawan, relasi, pedagang di sekolah atau bahkan guru di sekolah Anda sendiri maupun keluarganya.
Topics. Seluruh WOM bermula dari topik yang menggairahkan untuk dibicarakan. Karenanya, ciptakanlah topik tersebut. Jika TK menampilkan gerak dan lagu saat ada acara, dijamin tak akan ada topik yang hangat untuk dibicarakan. Kenapa? Karena semua TK begitu. Topiknya sama, caranya juga sama.
Tools. Anda perlu menyiapkan perangkat agar topik bisa berkembang dengan lebih pesat. Internet merupakan salah satu alat yang sangat efektif. Ini terutama melalui milis, blog atau jejaring sosial lainnya. Bukan melalui situs resmi, meskipun ini juga sangat bermanfaat.
Taking part. Bergabunglah dalam percakapan. Jika perlu ada orang yang mengambil peran aktif dengan melibatkan diri dalam berbagai percakapan. Ini merupakan salah satu tugas humas, tetapi pelaksananya sebaiknya jangan orang-orang yang secara resmi memakai predikat humas. Ingat, predikat tersebut bisa menjadikan kredibilitas menurun karena orang akan merasa, “Maklum humas. Sudah tugasnya menebar berita.”
Tracking. Lacak jejaknya. Pembicaraan yang berkembang meluas perlu Anda ukur dan pahami apa yang sedang diperbincangkan orang. Pantau pembicaraan apa yang sedang berkembang tentang sekolah Anda dan cermati apa sebabnya. Juga apa yang akan terjadi dengan pembicaraan tersebut.
Nah.
Lalu apa yang bisa Anda lakukan untuk menggencarkan strategi pemasaran WOM bagi sekolah Anda?

5 komentar:

smp mengatakan...

Assalamualaikum

Bagus sekali. Sukron. Prinsipnya kembali ke Every body has a sales hidden.

rajawa01 mengatakan...

thanks,
sanggat membantu....

aviation mengatakan...

Andakah Calon Pramugari dan Groung Staff yang kami cari??
*lulusan SLTA/mahasiswa/Diploma
*Sehat jasmani dan rohani
*penampilan menarik
*berat dan tinggi badan proporsional
a.jurusan pramugari 160 cm
b.jurusan staff airlines putra 165 cm, putri 158 cm

http://aviation-avianusantarasurabaya.blogspot.com/

Rumah Cerdas Malang mengatakan...

mantab

Sigit Kurniawan mengatakan...

terima kasih banyak atas sharingnya, o iya saya pernah membaca sebuah sekolahan dengan logo sangat unik yaitu 5+2 coba anda lihat di budyawacana.com/sma